Kasih Ibu
Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
Masih ingatkah anda dengan petuah bijak tersebut. Jika kita ingat-ingat kembali masa-masa anak-anak kita dulu tentu kita akan bisa meresapi makna dari kata-kata mutiara tersebut.
Ibu merupakan tokoh sentral keberadaan kita dimuka bumi, di alam fana ini. Tanpanya niscaya kita takkan ada. Tak percaya, tanya gih sama ayah.
Ibu, sosok yang tiada kenal lelah mengasuh anak-anaknya. Dari mulai dalam kandungan, kita sudah teramat sangat disayang. meski dengan sakit yang bertambah-tambah, ibu selalu menjaga kita dalah rahimnya.
Ibu rela tubuhnya jadi gendut dan tidak sexy lagi demi kita anaknya. Ibu rela bermual-mual ria dalam -ngidam- nya juga demi kita anaknya.
Dan, pertaruhan hidup dan mati beliau jalani saat melahirkan kita. Tak terbayang sakitnya, tak terbayang betapa menderitanya ibu dikala itu. Tapi Semua peluh da sakit seakan sirna begitu melihat sosok anaknya telah lahir, telah bertambah satu lagi penduduk bumi dan lagi dari rahimnya.
Betapa semua perjuangan panjangnya 9 bulan 10 hari telah terobati dengan pelukan beyi mungil di dadanya. Ibu, saya kangen pelukanmu ibu.
Perjuangan Ibu belumlah berakhir sampai disitu, kasih sayang ibu belum pupus hanya sampai kelahiran anaknya. Dari bayi sampai anak-anak sampai remaja bahkan sampai kapanpun kasih sayang ibu selalu hidup dan bersemi.
Ingat kembali waktu kita bayi, dari pagi hingga malam bahkan sampai pagi lagi praktis seluruh waktu ibu hanya untuk anaknya. Ibu rela tidak tidur demi menjaga agar kita tidak digigit nyamuk.
Ibu mengajari kita berbicara, ibu mengajari kita mengenal dunia dan juga mengenal Agama. Ibu betapa mulia pengorbananmu untuk aku anakmu.
Kita yang sekarang sudah menjadi pembicara hebat, coba tanya siapa yang pertama kali mengajari kita bicara. Kita yang sekarang sudah mengenal betapa luas dunia, ingat siapa yang pertama kali mengelakan duni dulu. Kita yang sekarang sudah sangat hebat dengan pengkat, jabatan, uang yang melimpah. Ingat kita takkan ada tanpa Ibu. Bahkan kita yang sudah sukses menjadi blogger hebat, ingat siapa yang pertama kali mengajari nge-blog. Mungkin bukan ibu, tapi coba ingat siapa yang pertama kali mengajar kita menulis. Semua itu adalah ibu.
Maka tak pantaslah kita masih meragukan kasih sayang ibu. Kecintaan ibu pada kita-kita anaknya. Bahkan sungguh hina kita jika sampai melupakan kasih sayangnya, menjadi anak durhaka.
Mungkin tidak akan cukup seluruh halaman ini untuk menuliskan betapa banyak kasih sayang dan pengorbanan ibu. Kasih sayang ibu sebagai mana terabadikan dalam lirik lagu berikut, memang demikian adanya.
Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjanga masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.
Dalam rangka memperingati hari ibu 22 Des, masih kita memperbanyak pengabdian kita kepada ibu kita. Mungkin kita khilaf dengan kurang memperhatikan beliau karena kesibukan kita. Coba sekarang luangkan waktu dan curahkan kasih sayang kita dengan lebih banyak dan lebih ikhlas lagi. Toh ibu dulu selalu ada waktu buat kita.



